Brand Communities: Penjaga Brand

POOLS 1

KANAL.CO, Jakarta: Brand dan komunitas secara definisi adalah dua hal yang berbeda, namun kini keduanya bisa bersanding membentuk sinergi.

 

Brand, menurut Aaker, adalah nama, istilah (term), tanda (Sign), simbol, atau kombinasi di antara item tersebut, yang bertujuan untuk menjadi pengenal (identifikasi) produk atau jasa dari produsen untuk membedakan dengan pesaingnya. Brand juga bisa disebut sebagai janji kepada pelanggan. Bentuk janjinya seperti kualitas produk dan layanan, ketepatan pengiriman, dan pelayanan purna jual.

Kendati bersifat tangible (sesuatu yang tidak terlihat, tidak bisa didengar, dirasakan, tapi bisa dialami), brand memiliki nilai atau bisa dikuantitatifkan. Dalam konteks ekuitas brand, dia menjadi salah satu dimensi yaitu aset lainnya sebagaimana reputasi korporat.

Brand Value
Interbrand memiliki metodelogi untuk merating nilai brand setiap tahun.
Brand global seperti Apple yang menempati peringkat pertama di antara brand global pada 2016 bernilai US$178 miliar. Google di posisi kedua dengan nilai brand US$133 miliar, diikuti oleh Coca Cola sebesar US$73 miliar , Microsof (US$72,79 miliar),Toyota (US$53 miliar),IBM (US$52 miliar), dan Samsung (US$51 miliar).
Brand juga dilekatkan ke negara sebagaimana dilakukan lembaga rating dalam www.countrybrandindex.com/country-brand-rankings.
Sedangkan komunitas, berarti kelompok sosial dari berbagai individu yang berbagi lingkungan, yang memiliki minat yang sama. Secara sederhana, di mata pemasar, komunitas adalah target market yang sudah terdefinisi (dibatasi)—upaya penyederhanaan dari tim marketing terkait alokasi sumberdaya.
Beberapa komunitas yang dikenal di Indonesia a.l. Bike to Work, Bismania Community, Komunitas Djadoel, Komunitas Onthel Batavia, Komunitas Hong, dan Indo Runner.

Komunitas untuk Brand
Jika brand dan komunitas memiliki definisi terpisah bagaimana dengan brand communities? Brand communities adalah grup atau sekelompok konsumen yang memilki aktivitas terorganisir seputar gaya hidup, kegiatan, dan etos dari brand (Susan Fournier & Sara Lee, HBR, April 2009-http://hbr.harvardbusiness.org).

Artinya, komunitas yang menyatukan dengan brand dan “berjuang” atau loyalist brand. Brand Communities yang legendaris adalah Harley Davidson (www.harley-davidson.com). Kecintaan konsumen dalam konteks brand communities menciptakan creating shared value (penciptaan nilai bersama) sebagaimana terjadi pada pelanggan Apple maupun Samsung. Mereka juga akan menentang keras jika brand melakukan perubahan terhadap unsur identifikasinya sebagaiman terjadi saat perubahan pada logo Starbuck dan cita rasa Coca Cola.

BRAND COMMUNITIES 1

Susan & Sara menilai ada tiga bentuk afiliasi brand communities.
Pertama, Pool yaitu publik memiliki ikatan yang kuat untuk berbagai aktivitas dan tujuan (goal), namun memiliki ikatan yang lepas antarindividu. Sharing aktivitas atau goal adalah kunci dari komunitas ini. Contohnya, adalah anggota Parpol dan penggemar produk Apple.
Kedua, Webs, yaitu Individu-individu memiliki ikatan kuat antar satu dengan yang lain karena memiliki kebutuhan yang saling melengkapi. Hubungan personal adalah kunci dari komunitas ini. Contoh, anggota Facebook, Twitter, dan komunitas social media lainnya.
Ketiga, Hubs, adalah publik memiliki koneksi yang kuat terhadap tokoh sentral dan memiliki ikatan yang lemah dengan individu-individu yang lain. Contohnya, kelompok penggemar Sherina, Agnes Monica, dan supporter pendukung Persija, Jakmania.

Mitos Brand Communities
Dalam prakteknya, ketiga brand communities di atas tidak bisa dipisahkan. Selain itu, tentu saja ada baiknya memahami beberapa mitos brand communities agar kita bisa melihat brand communities secara jernih. Dan berharap pelanggan menjadi penjaga (guard) bagi brand kita.

1.Mitos : Brand Community adalah marketing strategi (Realitasnya: Brand Community adalah strategi bisnis).
2.Mitos: Brand Community ada untuk melayani bisnis (Realitasnya: Brand Communitiy ada untuk melayani pelanggan).
3. Mitos: Bangun brand, dan komunitas akan mengikuti (Realitasnya: Rekayasa komunitas, dan brand akan mengikuti).
4. Mitos: Brand Community harus selalu dicintai dan rukun (Realitasnya: Perusahaan yang cerdas merangkul konflik yang membuat komunitas berkembang dan dewasa).
5. Opinion Leader (tokoh terkemuka) membangun komunitas yang kuat (Realitasnya: Komunitas menjadi solid jika setiap orang memainkan perannya).
6. Jaringan social online adalah kunci dalam strategi komunitas (Realitasnya: Jaringan social online hanyalah salah satu tool, bukan strategi komunitas).
7. Brand community akan sukses jika dikendalikan dan dikontrol secara ketat (Realitasnya: Komunitas adalah egaliter dan menolak kontrol dari manajemen).

Video Gallery

contoh iklan layanan masyarakat devianart 1

contoh iklan layanan masyarakat makanan