Kelas Menengah di era Medsos

SOSMED

KANAL.CO, Jakarta : Perkembangan media sosial (medsos)-internet dan kekuatan kelas menengah begitu dahsyat dalam lima tahun terakhir. Dua hal yang saling terkait dan menciptakan ekosistem yang disebut bisnis model multisided platform (Alexander Osterwarlder).

Osterwarlder menyebut Multisided Platform sebagai interaksi antara beberapa kelompok konsumen yang saling tergantung (independensi) namun saling memberi nilai tambah. Kenaikan nilai tambah tergantung pada intensitas interaksi dan kontribusi value dari masing-masing kluster tersebut.

Untuk Indonesia, potensinya menjadi sangat besar karena sejumlah alasan.
Pertama, potensi pasar Indonesia yg begitu dahsyat karena kebangkitan kelas menengah. Kebetulan mayoritas mereka adalah usia muda dan Netizen. McKinsey Global Institute, Sept 2012, meramalkan Indonesia akan menjadi ekonomi No. 7 terbesar di dunia pada 2030. RI akan melampaui negara maju saat ini, seperti Jerman dan Inggris.

Saat ini, menurut IMF, kekuatan ekonomi RI berada di urutan 16 dunia. Sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia 13-18 tahun ke depan adalah jumlah penduduk besar (keempat terbesar di dunia), tumbuhnya kelompok masyarakat kelas menengah yang memiliki daya beli, dan cepatnya pertumbuhan daerah perkotaan.

GOOGLE INO SYSTEM

Potensi Kelas Menengah
Menurut Bank Dunia, saat ini jumlah kelas Menengah baru 135 juta orang (dengan pengeluaran US$2-US$20 per hari atau Rp19.000-Rp190.000/hari atau Rp570.000-Rp5,7 juta per bulan). Total pengeluaran mereka per bulan diperkirakan Rp130 triliun.
Pertumbuhan kelas menengah (dengan psikografik tertentu) menciptakan kebutuhan berbagai produk dan layanan dasar (makanan) hingga produk kesehatan dan investasi.
Yang menarik, di Asia Pasifik (termasuk Indonesia), 61% masyarakat menempatkan dananya di instrument tunai atau setara tunai (tabungan dan deposito). Artinya, dana tersebut sangat mudah berpindah tangan atau dibelanjakan menjadi barang konsumtif. Kenaikan daya beli, pola pengeloaan dana, dan prilaku konsumen Indonesia yang cenderung konsumtif menciptakan mesin pertumbuhan lewat lonjakan konsumsi domestik.
Kedua, maraknya internet dan medsos. Setiap orang pasti memiliki akun facebook, twitter, likedin. Dari sisi web content, fenomena yang terjadi creating shared value (Porter) yaitu penciptaan nilai bersama dalam bentuk interactive-engagement dan komunitas merek. Artinya, terjadi interaksi (multisided platform) antara 4 aspek yaitu teknologi informasi, produsen (pemilik content), konsumen, dan talent people (yang dimotori netizen).

Di sisi web video, Chris Anderson, kurator TED Conference sejak 2002, mengatakan terjadi fenomena global yang disebutnya Crowd Accelerate Innovation. Kerumunan yang mengakselerasi inovasi via siklus belajar yg mendukung diri sendiri (a self-fueling cycle of learning) yang signifikan sebagaimana penemuan mesin printing.
Artinya, setiap individu kini bisa belajar keahlian tertentu dengan hanya melihat youtube. Individu tersebut kemudian menciptakan crowd (kelompok) yang kemudian berinovasi secara bersama-sama.

MEDSOS3

Dari E-commerce sampai Gerakan Sosial
Survei APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) menyebutkan pada 2016 pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta orang dari total 256 juta populasi Indonesia. Sebanyak 86 juta pengguna internet berada di pulau Jawa.Pengguna Facebook mencapai 88 juta orang (keempat setelah AS, Brasil, dan India per 2016). Pengguna Twitter 50 juta (Kelima setelah AS, Brasil, Jepang, dan Inggris).

Menurut OJK (Otoritas Jasa Keuangan), jika pada 2014 volume e-commerce mencapai US$12 miliar (sekitar Rp159 triliun), pada 2020, volume e-commerce diprediksi dapat menembusUS$130 miliar (Rp1.732 triliun). Tren layanan digital di perbankan juga mengalami peningkatan. Pada 2012, volume e-banking baru mencapai Rp4.441 triliun. Pada 2014 melejit hingga Rp6.447 triliun. Dari sisi sistem pembayaran pun tak jauh berbeda. OJK mencatat, volume e-money di Indonesia pada 2012 tercatat Rp138 triliun dan pada 2014 meningkat menjadi Rp536 triliun.

Bandingkan dengan dengan media tradisional TV swasta nasional hanya 10, TV lokal 60, radio 1.170, Surat Kabar 415, majalah 495, dan tabloid 257. Sedangkan jumlah portal luar biasa banyaknya. Pelanggan TV kabel ada 5 juta. Pelanggan seluler lebih dari 300 juta.

Dari fenomena di atas, gerakan global lewat social media-internet kini sudah merambah ke segala bidang. Bukan hanya persoalan berbagi ide dan gerakan social (solidaritas), tapi juga ekonomi (e-commerce) dan politik. Sebagai contoh, gerakan pecinta lingkungan melawan pebisnis, pemilik kilang pemurnian tembaga molybdenum (US$1,65 miliar) di Provinsi Sichuan, China berhasil karena peran Sina Weibo, jejaring twitter versi China.

Jadi, medsos begitu mudah menciptakan crowd untuk gerakan bersama. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya untuk tujuan mulia.

Video Gallery

contoh iklan layanan masyarakat devianart 1

contoh iklan layanan masyarakat makanan