Hoax vs Facebook, Google & Twitter (3)

HOAX3 MARK

Facebook, Twitter, dan Google dalam penyangkalan digital," jelas Robert Thomson, kepala eksekutif News Corp. “Mereka tidak dapat membebaskan diri dari tanggung jawab mengelola konten dengan mengatakan, Kami adalah perusahaan teknologi."

KANAL.CO, Jakarta: Algoritma Google juga terbukti rentan. Contohnya adalah berita palsu mengenai wafatnya George Soros—yang sering menjadi sasaran serangan kelompok Sayap Kanan. Seminggu setelah posting tersebut terbit, pencarian untuk kata kunci “George Soros” pada 20 November 2016 masih muncul di halaman pertama pencarian Goegle: “Sekilas : George Soros Wafat.” Cerita itu berasal dari portal yang bernama Event Chronicle.

Penyangkalan Digital
Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, menegaskan hanya 1% dari berita yang beredar di portal adalah palsu. Namun mengingat setengah penduduk AS adalah pengguna Facebook, angka tersebut mencerminkan trafik yang sangat besar.
Howard juga mengatakan banyaknya BOTS yang beroperasi di Facebook menunjukkan informasi palsu ditujukan kepada pengguna Facebook di wilayah dengan pemilih mengambang yang tinggi seperti Ohio dan Florida. Sehingga berdampak lebih besar.

Kegagalan untuk memblokir gelombang informasi yang keliru telah membangkitkan kembali keluhan dari media tradisional terhadap perusahaan digital. Mereka dinilai sengaja menutup mata, sebagaimana tudingan dalam kasus content berhak cipta.
Google dan Facebook telah menolak dianggap sebagai perusahaan media atau penerbit yang bertanggung jawab atas konten yang mereka distribusikan.

"Perusahaan-perusahaan ini dalam penyangkalan digital," jelas Robert Thomson, kepala eksekutif News Corp. Tentu saja mereka adalah penerbit dan sebagai penerbit bertanggung jawab untuk melindungi sumber beritanya. Koran-koran besar telah bergulat dengan itu beban suci tersebut selama beberapa dekade. “Anda tidak dapat membebaskan diri dari beban itu dengan mengatakan, Kami adalah perusahaan teknologi."

“Pengukuran, berita palsu dan konten ekstrimis menegaskan bahwa media baru atau media sosial bukanlah perusahaan teknologi. Mereka perusahaan media,” tegas Sir Martin Sorrell, kepala eksekutif WPP, grup agency iklan terbesar di dunia. “Mereka harus bertanggung jawab terhadap konten di saluran digitalnya.”
Namun platform internet mungkin memberikan insentif yg minim guna memunculkan tanggung jawab semacam itu. “Menyaring informasi palsu belum menjadi prioritas,” kata Borthwick. “Kontent yang intens dan melimpah sudah menjadi alat untuk mencapai tujuan. Dan akhirnya, lebih banyak sharing, lebih banyak konektivitas.”

Engagement yang Utama
Seorang mantan staf Facebook juga mengatakan bahwa cara perusahaan dijalankan mungkin ikut memperburuk penyebaran berita palsu. Ahli teknik perusahaan hanya fokus pada peningkatan engagement--klik, suka, komentar, dan sharing--sebagai referensi utama keberhasilan setiap fitur baru. Proyek baru biasanya dibebaskan setelah “sprint” selama enam bulan, dimana ada tekanan untuk meningkatkan metrik secara intens.
"Engagement adalah obat yang berbahaya," kata mantan manajer Facebook. "Tidak ada insentif untuk berpikir kritis tentang yang tidak diinginkan, yang sering berdampak jangka panjang."

Sumber: https://www.ft.com/content/2910a7a0-afd7-11e6-a37c-f4a01f1b0fa1
22 November 2016. Oleh Richard Waters, Matthew Garrahan dan Tim Bradshaw

Video Gallery

contoh iklan layanan masyarakat devianart 1

contoh iklan layanan masyarakat makanan