Hoax vs Facebook, Google & Twitter (4)

OBAMA

Presiden Obama mengeluhkan penjelasan di halaman Facebook seputar Pemanasan Global dari pemenang Hadiah Nobel tidak berbeda dibandinkang tokoh penolak perubahan iklim yang dibayar.

KANAL.CO, Jakarta :Tidak jelas seberapa jauh perusahaan internet akan bergerak untuk mengatasi masalah ini. Perhatian awal telah beralih ke algoritma yang digunakan untuk menyaring berita palsu, area dimana banyak ahli percaya ada ruang untuk perbaikan.
Editor Publik
Zuckerberg tidak menanggapi isu yang diangkat para pengkritik: Apakah portal tersebut perlu menyewa editor manusia?
Memperkerjakan orang untuk menyaring konten adalah tindakan tidak praktis mengingat skala jaringan, kata para pengeritik seperti Borthwick.
Tapi mereka berpendapat bahwa perusahaan-perusahaan internet masih harus menyewa "editor publik" yang dapat membantu dalam menyusun pedoman dan membentuk pemikiran mereka dalam desain produk serta isu-isu lain yang akan mempengaruhi cara pelayanan.
Himbauan tersebut bak hembusan angin berlalu.”Budaya yang mereka bangun dan pekerja yang mereka sewa menegaskan bahwa perusahaan internet seperti Facebook menilai tidak ada kebutuhan terhadap sensibilitas editorial,” jelas Ben Edelman, asisten profesor di Harvard Business School.
Jurang budaya semakin dalam. Di Twitter, komitmen untuk berbicara bebas telah banyak berkontribusi terhadap keraguan mereka untuk menindak tegas pelecehan. Kekeliruan yang coba diperbaiki pada pekan lalu melalui kontrol baru guna memerangi bullying, rasisme, dan kebencian terhadap wanita.

Facebook, menurut Zuckerberg, kendati lebih berperan sebagai platform komunikasi ketimbang portal media namun keduanya memiliki peran yang sama. “Kami yakin dengan mengizinkan publik bersuara, sama halnya membiarkan mereka men-share apapun yang mereka inginkan, kapanpun,” tulis dia pekan lalu.
Namun suara otoritas lama menjadi tenggelam di dunia dengan suara pengguna adalah utama.
Keluhan Obama
Dalam sebuah wawancara di The New Yorker, pekan lalu, Presiden Obama mengeluhkan penjelasan di halaman Facebook seputar Pemanasan Global oleh pemenang Hadiah Nobel tidak berbeda dibanding penolak perubahan iklim yang dibayar.

Mark Zuckerberg mengakui Facebook “keliru” pada sisi mengizinkan orang sharing apapun yang mereka inginkan, kapanpun. Kepasitas penyebaran berita palsu, teori konspirasi palsu, serta menggambarkan oposisi dengan tonasi yang liar dan negatif tanpa ada bantahan---telah mengakselerasi polarisasi pemilih di AS secara tajam dan membuat sulit untuk mempunyai percakapan yang bersifat umum.

Di tengah menguatnya kepahitan dari pemilu AS yang terbelah, pengguna Facebook kian mundur lebih dalam ke arah “filter bubbles”nya. Kepahitan dari kekalahan, kata Howard, mendorong pengguna yang kalah secara sistematik memilih “unfriending” terhadap temannya yang memilih kandidat lain.
Hasilnya mungkin lebih jauh dari sekedar perpecahan suku bangsa. Kondisi tersebut hanya akan menambah satu lingkungan, dimana banyak orang terlampau siap untuk percaya atas informasi yang paling bias dan tidak akurat tentang kelompok lawan—dan berteriak kepada siapa saja yang mau mendengar.

Mesin Story-telling
Seberapa keras hal itu bisa melatih komputer untuk mengecek berita palsu?
Tidak banyak, kata pengkritik yang menilai perusahaan seperti Facebook dan Twitter belum berupaya keras untuk memblokir informasi palsu dari situs mereka.

Mereka membandingkan problem itu dengan bencana online sebelumnya. Misalnya, spam yang membanjiri sistem email yang disebut pabrik konten—situs yang memproduksi artikel berkualitas rendah dalam jumlah besar untuk menyiasati mesin pencari dan menciptakan iklan.
Dalam kasus yang sama, algoritma yang disesuaikan untuk mengidentifikasi serta menghapus atau mengurangi materi yang tidak pas.
Dengan sumberdaya raksasa mereka, perusahaan internet selayaknya bisa menemukan cara mudah untuk bertindak, jelas Ben Edelman, asisten profesor di Harvard Business School. “Facebook mempunyai lebih banyak uang dibanding Tuhan.”

Diperlukan empat pelajar, 36 jam, pekan lalu untuk menghasilkan
alat sederhana guna memblokir berita palsu. Dikembangkan selama kompetisi coding di Universitas Princeton, browser plug-in menambahkan peringatan untuk informasi yang tidak bisa diverifikasi dan menyarankan mencari materi alternatif ke situs-situs terpercaya.
Sejumlah perusahaan media saat ini sedang bekerja dalam sebuah proyek guna membantu mesin untuk menceritakan yang baik dari yang jelek, seperti tipe baru metadata duntuk membantu realibilitas dari keputusan

Sumber: https://www.ft.com/content/2910a7a0-afd7-11e6-a37c-f4a01f1b0fa1
22 November 2016. Oleh Richard Waters, Matthew Garrahan dan Tim Bradshaw

Video Gallery

contoh iklan layanan masyarakat devianart 1

contoh iklan layanan masyarakat makanan