Yang Muda, Young Entrepreneurs

PENGUSAHA MUDA
KANAL.CO, Jakarta
: Abad ini memang menjadi miliknya anak muda (Netizen/ Net Gener). Kini, semakin banyak entrepreneurs muda yang membangun start-up (usaha rintisan) dengan bisnis model inovatif sekaligus menjadi CEO.


Don Tapscott (penulis Grown up digital: Yang muda yang mengubah dunia) mengaku yang tua kini perlu belajar dari yang muda. Mereka membangun nilai-nilai sendiri seperti mencintai kebebasan, kustomisasi, dan hiburan. Mereka selalu bertindak bak kurator, ingin cepat, inovatif, dan berkolaborasi. Namun tetap menjunjung tinggi integritas.
Abad Net Gener adalah generasi yang lahir dalam rentang Januari 1977-Desember 1997. Era lahir dan berseminya Apple, Samsung, Google, Youtube, Facebook, dan twitter.

Jutawan di Usia 20 tahun
Kini tidak susah menemukan remaja-remaja yang sangat sukses di berbagai belahan dunia. Majalah Forbes bahkan membuat laporan tahunan seputar billioner muda di bawah 30 tahun ini di 15 bidang,mulai art & style, Hollywood, finance, technologi, social entrepreneurs, media, sampai game-apps.

Sejumlah entrepreneur tajir di era kita berusia di kisaran 20-an tahun saat memulai bisnis. Pendiri Google yaitu Sergey Brin (25 tahun) dan Larry Page (25). Pendiri Apple yaitu Steve Jobs (21) dan Steve Wozniak (26), Microsoft (Bill Gates, 20, dan Paul Allen, 22), Facebook (Mark Zuckerberg, 20), dan pendiri Wal-Mart, Sam Walton (26).

Mereka terbukti sukses membangun perusahaan-perusahaan hebat sepanjang sejarah. Ada sejumlah pelajaran penting yang dapat dipetik dari kesuksean junius muda itu. Pertama, Mereka bertindak tanpa beban. Soalnya, mereka biasa hidup susah di apartemen murah dan menyantap mie instan.
Kedua, mental tanpa beban tadi, membuat pengusaha muda mampu menemukan solusi dengan mindset yang betul-betul berbeda. Sayangnya, entrepreneur muda ini memiliki energi yang secara konsisten bisa membakar lilin di tengah malam. “Saya tidak pernah libur saat di usia 20,” tukas Bill Gates.
Ketiga, tanpa tempat kerja yang mapan [workplace], mereka bisa menawarkan solusi baru, inovatif, dan terobosan.


Startup Stories of Billionaire Entrepreneurs

Secara konsep untuk membangun perusahaan sukses, kebanyakan investor dan konsultan bisnis mencari tim yang berpengalaman. Mereka mencari seseorang dengan track record sukses membangun tim, mendesain rencana bisnis, menciptakan produk, dan mengelola finansial.

Sebaliknya, menurut Brant Cooper & Patrick Vlaskovits (penulis The Lean Entrepreneur) anak-anak muda itu lebih memilih menjadi lean entrepreneur/lean star-up. Mereka memilih pendekatan disruptive innovation seperti mencari pasar baru, inovasi yang drastik, lebih mendengar pelanggan, dan menggunakan model bisnis baru.
Yang menarik, ketimbang terpaku pada business plan, lean start-up company lebih memilih mendengarkan suara pelanggan sebelum mantap menemukan model bisnis unik. Ada proses trial and error. Tahapannya, menurut Steve Blank, HBR, Mei 2013 (1) customer discovery (2) customer validation (3) customer creation (4) company building.
Formula Lean start-up berbeda jauh dibandingkan start-up tradisional dari lima indikator.
(1)Strategi:
*Lean start up: Model bisnis dan hypothesis driven
* Tradisional: Business plan dan Implementation-driven)
(2) Proses produk baru
*Lean start-up: pengembangan pelanggan dan menguji hipotesis di lapangan atau tidak hanya di belakang meja
*Tradisional: manajemen produk dan Siap-siapa masuk pasar secara bertahap.
(3) Rekayasa
*Lean-up start-up: pengembangan yang cerdas (agile development) & membangun produk secara bertahap
*Tradisional: waterfall development dan mengembangkan produk secara penuh.
(4) Pelaporan finansial
*Lean-up start-up Matrik dan biaya akuisisi pelanggan, lifetime value customer, serta churn cost (
*Tradisional: akunting dan laporan laba-rugi, cashflow, dan neraca.
(5) Menyikapi kegagalan
*Lean star-up: Diharapkan dan diatasi dengan ide yang lebih tepat *Tradisional: dikecualikan & memecat eksekutif.
(6) Kecepatan:
*Lean star-up: Cepat dan beroperasi dengan data secukupnya *Tradisional: Terukur & beroperasi dengan data lengkap).

LEAN MODEL REV

CEO Made in Indonesia
Bagaimana dengan di Indonesia? Sejumlah lean star-up company dengan model bisnis unik juga lahir. Fanatisme CEO mudanya juga menarik.
Misalnya, Nadiem Makarim, mendirikan Gojeck ketika berusia 27 tahun. Andrew Darwis dan Ken Dean Lawadinata merintis Kaskus sejak masih berusia mua. Elang Gumilang, pengusaha properti yang membangun perumahan pertama saat berusia 22 tahun. Jessica Febiani, yang memiliki belasan butik dan produknya sudah menyebar ke mancanegara.
Diajeng Lestari sukses berbisnis online baju muslimah (HijUp.com). Nanida Jenahara Nasution, desainer Hijab dan pendiri komunitas Hijabers.

Majalah Forbes, 2016, bahkan memasukkan 17 anak muda sukses Indonesia ke daftar "30 Under 30 Asia.” Empat anak muda Indonesia, misalnya, masuk dalam ranah teknologi yaitu Kevin Aluwi, pendiri sekaligus Chief Financial Officer dari Go-Jek; Benny Fajarai, Co-founder Qlapa; Arief Widhiyasa, Co-founder Agate Studio, dan Ferry Unardi, Cofounder & CEO Traveloka. Tiga nama pertama masuk ke kategori "Consumer Tech" dan Ferry Unardi dari Traveloka masuk dalam kategori "Retail & Ecommerce". Nama-nama tersebut juga disejajarkan dengan pendiri produsen smartphone terkenal asal China yakni Carl Pei dari OnePlus.
Selain itu, ada juga beberapa nama tokoh muda Indonesia yang masuk ke kategori kesehatan, seperti Leonika Sari Njoto Boedioetomo, CEO Reblood dan Mesty Ariotedjo,dokter pemain harpa dan Cofounder WeCare.id.

Di luar daftar Forbes, nama-nama CEO muda lain sebetulnya masih panjang berderet. Mereka tersebar di berbagai wilayah nusantara.

Brand indie
Yang menarik CEO muda tersebut juga sukses melahirkan brand indie. Sejumlah nama beken antara lain Singgih Susilo Kartono (radio magno), Ni Luh Djelantik, pencipta sepatu hak tinggi (high heels) lokal berlabel Nilou, dan Peter Firmansyah mengusung label PetersaysDenim untuk produk jins, kaus, dan topi.
Di Bandung ada UNKL 347 berusia 15 tahun dan Amudra.com. UNKL 347 sempat nampang di majalah desain bergengsi Monocle.

Kepala Promosi UNKL-347 Eddi Brokoli mengklaim UNKL-347 sebagai rumah desain. Salah satu dari empat pendiri UNKL-347 yaitu Dendy Darman mengaku, “hanya mau berbisnis desain.Tidak yang lain.”
Dendy yang kerajingan surfing memulai bisnisnya dari desain clothing. Banyak desain kaos keren yang keren tapi mahal sebab produk impor.
Sukses di clothing, UNKL-347 kemudian merambah ke bisnis desain furnitur sampai rumah. Dan kini mereka masuk ke bisnis properti. Mereka menjual satu unit rumah dan isinya (furnitur sampai peralatan dapur) dengan ukuran 70 m2, di atas lahan 100 m2 seharga Rp700 juta. “Bingung juga jual rumah, langsung laris, dan banyak yang antri,” cerita Eddi.

Cofounder Amudra Aryp Priambodo mengatakan Amudra.com merupakan ecommerce marketplace untuk streetwear. Mereka lebih suka menyebutnya “streetwear” bukan “fashion” karena kata “fashion” identik dengan “catwalk”.
Amudra.com memiliki akar dari komunitas distro Bandung, salah satu pendirinya adalah Dicky Sukmana, yang telah berbisnis kaos sejak SMP di 1993. Amudra.com mengusung misi menjadikan brand lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri.

Video Gallery

contoh iklan layanan masyarakat devianart 1

contoh iklan layanan masyarakat makanan