Disrupted Lean Start-Up

LEAN UP MODEL
KANAL.CO, Jakarta
: Perusahaan rintisan atau (Start-up) sedang menjadi trend di seluruh dunia. Di Indonesia, jumlah start-up adalah yang terbesar di Asia Tenggara mencapai 2.000 usaha.


Menurut Tech in Asia Indonesia, selama 2016 ada 88 start-up Indonesia yang mendapat pendanaan lebih dari US$947,5 juta atau hampir US$1 miliar. Jumllah 88 start-up (usaha rintisan), tambah Tech in Asia Indonesia  meningkat dari 62 start –up selama 2015.
Aplikasi Go-Jek yang didirikan Nabiel Makarim tercatat mendapat pendanaan terbesar selama 2016 yaitu U$550 juta (sekitar Rp7,5 triliun) dari sejumlah investor seperti KKR, Warburg, Pincus, dan Sequoia. Berikutnya, Tokopedia meraih dana US$147 juta (Rp2 triliun) dan MatahariMall dari Grup Lippo (US$100 juta atau Rp1,3 triliun).

Disrupted Innovation
Start-up company memiliki keunikan tersendiri khususnya menciptakan model bisnis baru yang mengguncang pasar karena bersifat disrupted innovation. Pendatang baru ini bisa datang dan pergi dengan mudah. Namun hanya 25% dari total usaha yang bisa bertahan.
Meluncurkan perusahaan baru, apakah itu usaha rintisan di bidang teknologi, usaha kecil, atau inisiatif di internal perusahaan besar selalu menjadi pertaruhan sukses atau gagal (hit-or-miss).

Resep lama, menurut Steve Blank (HBR, Mei 2013), adalah manajemen menyiapkan business plan, mencari calon investor, membangun tim, meluncurkan produk, dan mulai berjualan sekuat tenaga. Hasilnya, bisa saja nihil. Riset terbaru dari Shikhar Ghosh dari Harvard Business School membuktikan 75% start up company gagal total.

Selain faktor ketidakpastian—karena itu perusahaan hebat, menurut Jim Collins, mengantisipasinya dengan memegang teguh disiplin fanatik dan paranoid produktif—ada beberapa terkait mitos seputar pengembangan produk (product development).

Thomke & Reinertsen mengatakan paling tidak ada enam mitos terkait pengembangan produk di start-up company yaitu (1) Utilitas sumberdaya yang tinggi akan mendongkrak kinerja (2) Pemrosesan kerja dalam batch yang besar akan meningkatkan proses ekonomi (3) Rencana kami hebat; kami tinggal fokus di situ (4) Semakin cepat proyek itu dimulai, semakin cepat selesainya (5) Semakin banyak feature yang dilekatkan di produk, semakin senang pelanggan (6) Kami akan lebih sukses jika kami sudah bertindak tepat di waktu awal.

Lean start-up Company
Kini arus pembalikan sedang terjadi, proses yang mengurangi risiko pada start-up. Metodelogi ini disebut lean start-up . Sekolah bisnis terkemuka seperti Stanford, Harvard, Berkeley, dan Columbia telah mengajarkan resep lean start-up ini.
Yang menarik, ketimbang terpaku pada business plan, lean start up company lebih memilih mendengarkan suara pelanggan sebelum mantap menemukan model bisnis unik. Ada proses trial and error. Tahapannya.
Pertama, customer discovery.Para pendiri menerjemahkan ide ke dalam hipotesis model bisnis, menguji asumsi kebutuhan pelanggan, kemudian menciptakan produk tahap awal. Hipotesis model bisnis dituangkan dalam bisnis model canvas milik Alexander Osterwalder.
Kedua, customer validation. Start-up melanjutkan uji hipotesis dan mencoba memvalidasi minat pelanggan lewat order tahap awal atau penggunaan produk. Jika tidak ada minat, start-up bisa mengulang proses dari awal lagi.
Ketiga, customer creation. Produk layak dijual. Menggunakan hipotesis yang sudah terbukti, start-up mengembangkan pemasaran, penjualan dan menaikkan skala bisnis.
Keempat, company building.Transisi bisnis dari model start-up ke model eksekusi fungsi departemen.

Lean start-up berbeda dibandingkan formula start-up tradisional karena sejumlah alasan seperti gambar di bawah ini:
LEAN START UP TRASIONAL

Ciri-ciri Disrupted Innovation
Jika dicermati ciri lean start-up relatif mirip dengan disrupted innovation. Larry Downes & Paul F. Nunes (Big Bang Disruption, HBR, Maret 2013) menilai disrupted innovation menciptakan bencana atau disrupted disaster. Fenomena disrupted innovator sebelumnya, pernah dikaji oleh Bower dan Christensen, 1995.

Big Bang Disruption memiliki ciri –ciri (1) unencumbered development yakni pengembangannya tanpa beban (liabilitas atau apapun) (2) Unconstrained growth: pola perkembangannya tidak mengikuti pola distribusi normal. Artinya, begitu produk /teknologi baru muncul langsung dikonsumsi trial user (pengguna baru) dan diikuti lonjakan early adopter (pengguna berikutnya). Namun siklusnya berlangsung singkat begitu ada produk-teknologi baru.
(3) Undisciplined strategy. Mereka tidak mengikuti pola baku strategi kompetisi. Biasanya, bisnis mensinergikan tujuan strategiknya dengan salah satu dari tiga disiplin yaitu low cost, product leadership, atau customer intimacy.

Contoh sukses lean start-up sekaligus disrupted innovator ini diwakili pendirinya yang masih relatif mudah (di bawah 30 tahun).
Majalah Forbes memajang anak muda disruptors, inovator, dan entrepreneur di bawah 30 tahun dalam 15 kategori. Cakupannya mulai dari energy hingga Hollywood. Mereka antara lain Mark Zuckerberg, Lady Gaga and LeBron James, sedangkan yang lain adalah Nick D’Aloisio (pencipta Summly), Danielle Fong and Alexander Wang.
Di Indonesia ada beberapa contoh seperti Aldi Haryopratomo pencipta microlending RUMA (rekan Usaha Mikro Anda)—di AS ada KIVA—Melissa Sunjaya (website tulisan.com), gerakan desa membangun (www.melung. or.id) dan efek rumah kaca.

START UP1

Video Gallery

contoh iklan layanan masyarakat devianart 1

contoh iklan layanan masyarakat makanan