Kiat Korporat Kelola Disruption

DISRUPTED
KANAL.CO, Jakarta : Sejumlah bisnis rintisan (start-up) berbasis teknologi internet yang menciptakan disrupted semakin banyak belakangan ini. Di sejumlah negara, seperti aplikasi Uber dan Grab menciptakan gelombang demo masal bahkan kerusuhan.


Bentrokan antara pengemudi angkot lokal dan pengguna aplikasi online terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Mulai dari Tangerang, Bogor, Jogja hingga Solo.
Kendati demikian, menurut Techinasia, selama semester I 2017 terjadi penurunan jumlah start up di Indonesia yang dibiayai yaitu menjadi 36 dari 44 start up pada semester I 2016. Go Jeck dan Tokopedia mendapat pembiayaan dari investor dalam jumlah yang fantastic.

Fenomena Sharing Economy (Ekonomi Berbagi) yang dipicu teknologi informasi (internet) terus berkembang dengan pesat. Di satu sisi, Sharing Economy menguntungkan konsumen, di pihak lain mengusik kemapanan korporat. Mereka harus menyikapinya secara bijak atau tetap di atas ombak. Bukan tergulung ombak besar.

Start-up & Men-Disrupted Model Bisnis
Sekali lagi seputar disrupted innovation atau big bang disruption atau kini menjadi fenomena disrupted disaster. “Mereka tidak menciptakan dilema untuk inovator, mereka memicu bencana [bagi korporat],” tulis Larry Downes & Paul F. Nunes ( Big Bang Disruption, HBR, Maret 2013).

Fenomena disrupted innovator sebelumnya, pernah dikaji oleh Bower dan Christensen, 1995. Jauh sebelum era internet is things selama periode 2000-2011(meminjam istilah eksekutif Cisco).
Saat itu, sudah ada kegalauan kenapa sekelas Goodyear dan Firestone relatif terlambat masuk ke pasar ban radial. Xerox membiarkan Canon menciptakan pasar foto copy kecil. Bucyrus-Erie merelakan Caterpillar and Deere mengambil alih pasar eksavator mekanik. Sears melapangkan jalannya untuk Wal-Mart (raksasa ritel dengan jargon “Everyday is low price”).
Memang, banyak faktor penyebabnya mulai dari birokrasi, kesombongan sebagai leader market, sampai pertimbangan horizon investasi yang berjangka pendek.
Namun alasan yang paling fundamental ada di jantung paradox yaitu perusahaan besar terlena bahkan tersandera konsumennya. Kesetiaan konsumen ternyata mudah berubah. Mereka bisa berpindah ketika pesaing menawarkan value (lewat teknologi) yang lebih baik.

Keep it simple
Fenomena ini sejalan dengan kajian Patrick Spenner & Karen Freeman, Mei 2012, terhadap lebih dari 7.000 konsumen dan wawancara dengan ratusan eksekutif marketing di AS, UK dan Australia. Riset meliputi cakupan yang luas dari usia, pendapatan, dan etnik.
Hasilnya, konsumen tidak terlalu mau membangun “relasi” yang intens dengan produsen. Bantu saja mereka membuat pilihan yang tepat. “Keep it simple.”
Ada tiga langkah untuk memudahkan konsumen melewati pengalaman berbelanja : (1) Menavigasi (2) Membangun kepercayaan (3) Memudahkan mereka dalam memutuskan untuk membelai. Di luar itu, lupakan saja.

Lantas apa hubungannya, antara Disruption- prilaku konsumen, dan respos korporat?
Di Era Internet of Everything --menurut Cisco, mulai 2011 dan akan mencapai puncak pada 2020-- ketiga komponen itu membangun multisided platform (meminjam istilah Alexander Osterwarlder).
Di era tersebut terjadi koneksi intensif antara manusia, proses bisnis, data, dan gadget. Proses ini sedang terjadi. Dalam situasi semacam itu fenomena Big Bang Disruption menjadi semakin mencemaskan buat korporat.

Big Bang Disruption memiliki ciri –ciri (1) unencumbered development yakni pengembangannya tanpa beban (liabilitas atau apapun) (2) Unconstrained growth: pola perkembangannya tidak mengikuti pola distribusi normal. Artinya, begitu produk /teknologi baru muncul langsung dikonsumsi trial user (pengguna baru) dan diikuti lonjakan early adopter (pengguna berikutnya). Namun siklusnya berlangsung singkat begitu ada produk-teknologi baru.
(3) Undisciplined strategy. Mereka tidak mengikuti pola baku strategi kompetisi. Biasanya, bisnis mensinergikan tujuan strategiknya dengan salah satu dari tiga disiplin yaitu low cost, product leadership, atau customer intimacy.
DISRUPTED 1
Disruption in the making
Karena keunikan disruption tadi, maka mereka mengubah aturan bermain. Produk yang ada, bisa hilang hanya dalam satu malam. Mereka juga bisa memperpendek siklus hidup produk. Teknologi betul-betul memperluas fungsi tubuh manusia (Chris Shilling).

Contohnya adalah kehadiran Black Berry dengan BBM menenggelamkan Nokia dan Sony-Erricson. Kemunculan Ipad dan Samsung Tab membuat semua pemain termasuk di media massa harus bersiap-siap gulung tikar.

Gejala disruption besar yang sedang terjadi antara lain pengembangan mobil listrik dan mobil hybrid, perluasan penggunaan tablet (ipad,Samsung Tab), serta proses pembayaran via internet (migrasi dari transaksi dari kartu kredit ke smartphone).

Bagaimana sikap korporat terhadap fenomena tersebut? Ada beberapa tips: (1) Mencermati kehadirannya (2) Memperlambat periode “kerusakannya” untuk menyiapkan respons balik. (3) Siap-siap “cabut” dari bisnis jika sulit dilawan (4) Melakukan diversifikasi bisnis.

Kabar baiknya, big-bang disruption menyimpan potensial yang dahsyat bagi siapa saja yang belajar dengan cepat.Bisnis kita, bisa saja digantikan sesuatu yang lebih dinamis, tidak stabil, tapi juga lebih menguntungkan. Intinya, cepat beradaptasi, proaktif, dan terus belajar.

Video Gallery

contoh iklan layanan masyarakat devianart 1

contoh iklan layanan masyarakat makanan