Seni Belajar dari Kegagalan

Learning 1
Are better you’ll learn from mistakes you’ll and then try again
(Richard Branson, Pemilik Virgin Group, Inggris)


KANAL.CO, Jakarta
: Hikmah belajar dari kegagalan adalah sesuatu yang tidak terbantahkan. Namun, jarang sekali sebuah organisasi melakukannya dengan baik . Kesenjangan pemahaman ini bukanlah karena kurangnya komitmen untuk belajar.


Mayoritas Manajer di besar perusahaan yang saya pelajari selama 20 tahun terakhir seperti farmasi, jasa keuangan, desain produk, telekomunikasi, perusahaan konstruksi, rumah sakit, dan program antariksa NASA, sebetulnya ingin membantu organisasi mereka untuk belajar dari kegagalan guna memperbaiki kinerja di masa depan.

Dalam beberapa kasus, mereka telah mencurahkan banyak waktu untuk melakukan evaluasi tindakan dan sejenisnya. Namun seiring dengan waktu, saya melihat bahwa usaha yang serius ini tidak membawa perubahan yang nyata. Alasannya, Para manajer itu memikirkan kegagalan dengan cara yang salah.

Umum eksekutif yang pernah saya ajak bicara percaya bahwa kegagalan itu buruk . Mereka juga yakin belajar dari hal itu sangat mudah: Minta orang lain untuk merenungkan kesalahan apa yang mereka lakukan dan menasihati mereka untuk menghindari kesalahan serupa di masa depan. Atau lebih baik lagi, bentuk tim untuk meninjau dan menulis laporan tentang apa yang terjadi dan kemudian mendistribusikannya ke seluruh organisasi.
Hal-hal berikut ini adalah keyakinan yang menyesatkan. Pertama, kegagalan tidak selalu jelek. Dalam kehidupan berorganisasi, kadang kita mengalami hal yang jelek, kadang tidak terelakan, dan kadang bagus. Kedua, belajar dari kegagalan organisasi adalah penting, namun harus secara langsung.

Sikap dan kegiatan untuk mendeteksi dan menganalisa kegagalan secara efektif jarang terjadi di perusahaan. Selain itu, kebutuhan terhadap strategi pembelajaran yang spesifik dan kontektual kurang dihargai. Organisasi membutuhkan cara-cara baru dan lebih baik yang jauh melampaui hal-hal yang bersifat mendasar ("Prosedur tidak diikuti") atau melayani diri sendiri ("Pasar belum siap untuk produk baru kami yang hebat"). Ini artinya membuang jauh-jauh kepercayaan atas budaya lama dan gagasan stereotip tentang kesuksesan dan merangkul pelajaran kegagalan. Pemimpin bisa mulai dengan memahami bagaimana permainan menyalahkan itu terjadi di jalan.

 

Permainan Menyalahkan (The Blame Game)

Kegagalan dan kesalahan hampir tidak pernah terpisahkan di sebagian besar rumah tangga, organisasi, dan budaya. Pada suatu titik, setiap anak belajar bahwa mengakui kegagalan berarti siap disalahkan. Karena itu, hanya sedikit organisasi yang memilih beralih ke budaya keselamatan psikologis yang sepenuhnya dapat menghargai belajar dari kegagalan.

Eksekutif yang diwawancarai di sejumlah organisasi berbeda seperti rumah sakit dan bank investasi yang mengaku memiliki sikap yang terbelah: Bagaimana mereka bisa merespons secara konstruktif kegagalan tanpa menimbulkan sikap apa pun? Jika orang tidak disalahkan atas kegagalannya, apa yang memastikan mereka akan berusaha sekeras mungkin untuk memperbaiki dan melakukan pekerjaan terbaiknya?
Keprihatinan ini didasarkan pada dikotomi yang keliru. Sebenarnya, budaya yang membuat mereka merasa aman untuk menerima dan melaporkan kegagalan di suatu organisasi haruslah hidup berdampingan dengan standar kinerja yang tinggi.

Apa sajakah tindakan yang tergolong tercela? Penyimpangan yang disengaja, yang pertama masuk daftar, yang layak disalahkan. Tapi kurangnya perhatian mungkin tidak. Jika hasil dari kurangnya upaya, mungkin itu patut dicela. Namun jika kesalahan terjadi sebagai akibat dari kelelahan menjelang akhir shift yang terlalu lama, manajer yang menugaskan karyawan di shift tersebut yang lebih tepat disalahkan dibandingkan karyawannya. Jika kita menyusuri ke dalam daftar, semakin sulit untuk menemukan tindakan yang salah.

Ketika saya meminta kalangan eksekutif untuk mempertimbangkan spektrum ini (A Spectrum of Reasons for Failure) dan kemudian memperkirakan berapa banyak kegagalan dalam organisasi mereka benar-benar patut dicela, jawaban mereka biasanya ada dalam satu digit, mungkin 2% -5%. Tapi ketika saya bertanya berapa banyak pihak yang diperlakukan sebagai tercela, mereka mengatakan (setelah jeda atau tertawa) 70% -90%. Akibatnya, banyaknya kegagalan tidak dilaporkan dan proses pembelajaranpun menjadi lenyap.

SPEKTRUM
Tidak Semua Kegagalan Diciptakan Sama

Pemahaman yang canggih tentang penyebab dan konteks kegagalan akan membantu menghindari permainan menyalahkan dan melembagakan strategi efektif untuk belajar dari kegagalan. Kendati sejumlah hal yang tak terbatas bisa salah dalam organisasi, namun kesalahan bisa dibagi dalam tiga kategori besar yaitu Dapat Dicegah, Terkait Kompleksitas, dan Kecerdasan.

Sumber: Strategies for Learning from Failure (Amy C. Edmondson,April 2011, hbr.org: https://hbr.org/2011/04/strategies-for-learning-from-failure)

Video Gallery

contoh iklan layanan masyarakat devianart 1

contoh iklan layanan masyarakat makanan