Bahagia: Rahasia Pendidikan Finlandia

GURU DI KELAS

“Jangan Lupa bahagia..
” (Timothy D. Walker, penulis Teach Like Finland)

KANAL.CO, Jakarta: Setiap tanggal 25 November, kita merayakan Hari Guru. Tapi mengapa masyarakat di Indonesia tidak banyak yang tahu?

Hari Guru Nasional sebetulnya telah dicetuskan sejak 1994 sesuai dengan Keppres No. 78/1994 dan juga di UU No.14/ 2005 tentang Guru dan Dosen, yaitu pada 25 November dipilih sebagai Hari Guru Nasional dan diperingati bersamaan dengan ulang tahun PGRI (Persatuan Guru seluruh Republik Indonesia).
Mungkin alasan ketidaktahuan kita soal Hari Guru, karena kita sudah memiliki Hari Pendidikan Nasional. Selain itu, masyarakat jarang mengadakan kegiatan khusus di “Hari Pahlawan Tanpa Jasa itu”.
Padahal, perkumpulan guru sebenarnya sudah ada sejak zaman Pemerintahan Belanda. Waktu itu, persatuan guru Indonesia bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) dan didirikan pada tahun 1912. Kelompok persatuan guru ini beranggotakan guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan perangkat sekolah lainnya.
Artinya, para guru ini sudah memproklamasikan diri menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) pada 1932 atau 13 tahun sebelum Indonesia merdeka.
Hari Guru Nasional ternyata telah dicetuskan sejak tahun 1994 sesuai dengan keputusan presiden. Berdasarkan Keppres Nomor 78 Tahun 1994 dan juga di UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, 25 November dipilih sebagai Hari Guru Nasional dan diperingati bersamaan dengan ulang tahun PGRI.

SISTEM PENDIDIKAN
Mengajar ala Finlandia

Di luar soal Hari Guru, problem guru di Indonesia masih berkutat seputar kesejahteran, kualitas, dan penyebaran guru yang masih berpusat di Pulau Jawa. Masih jauh memang mimpi memiliki sistem pendidikan canggih seperti di Korsel, Jepang, Singapura, dan Finlandia.
Menurut Social Progress Imperative, 2017, 10 negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia adalah (1) Korsel (2) Jepang (3) Singapura (4) Hong Kong (5) Finlandia (6) Inggris (7) Kanada (8) Denmark (9) Belanda (10) Irlandia. Indonesia masih di luar 20 besar.
Yang mengejutkan adalah prestasi Finlandia, negeri kecil dengan jumla penduduk sekitar 5 juta jiwa.
Menurut Timothy D. Walker (penulis Teach Like Finland) Finlandia secara mengejutkan dunia ketika siswa-siswanya yang masih berusia 15 tahun berhasil meraih skor tertinggi di penyelenggaraan PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun 2001. Ujian ini mencakup penilaian ketrampilan berpikir kritis di bidang matematika, ilmu pengetahuan, dan membaca. Sampai saat ini prestasi negara mungil ini tetap memukau dunia. Bagaimana pendidikan Finlandia yang jam pelajarannya pendek, PR-nya minim, pengajarnya relatif santai dan ujian tidak terstandardisasi mampu mencetak “siswa-siswa” dengan prestasi yang baik.



Dalam bukunya, Tim Walker mengungkapkan 33 tips rahasia sukses sistem pendidikan di Finlandia yang tercakup dalam 5 kluster yaitu Kesejahteraan, Rasa Dimiliki, Kemandirian, Penguasaan, dan Pola Pikir.
Aspek Kesejahteraan misalnya Ada istirahat 15 menit setiap 45 menit pelajaran, belajar sambil bergerak, recharge sepulang sekolah, menyederhanakan ruang, menghirup udara segar, masuk ke alam liar, dan menjaga kedamaian.
Murid-murid SD di Finlandia juga sejak dini diajarkan untuk mandiri termasuk berangkat dan pulang sekolah sendiri tanpa jemputan orang tua. Intinya, pengajaran adalah menciptakan kemandiran, kebahagiaan untuk pengajar, orang tua, dan murid serta keseimbangan relasi termasuk dengan lingkungan.

Pesan terakhir Tim Walker dan penutup dari bukunya adalah, “Jangan lupa bahagia.” Hal ini senapas dengan pernyataan Shawn Achor, pakar Psikologi Positif AS, “ Kebahagiaan adalah kunci sukses. Bukan sebaliknya.”

Video Gallery

contoh iklan layanan masyarakat devianart 1

contoh iklan layanan masyarakat makanan