Latter Factor & 7 Tips Rahasia Kaya

COFEE 2

KANAL.CO, Jakarta: Latte Factor, istilah yang dipopulerkan Davide Bach, penulis Smart Couples Finish Rich, adalah pengeluaran kecil rutin yang sebetulnyanya tidak perlu namun tanpa disadari bisa terakumulasi secara fantastik dan membuat “kantong Kita jebol”. Selain biaya untuk ngopi, pengeluaran untuk membeli baju, nonton bioskop, hang out di café, kosmetik, transportasi online, dan transaksi di bank bisa tergolong kategori ini.

Menurut Bach, Latte Factor bersumber pada ide bahwa jika Kita ingin menjadi kaya, maka mulailah mencermati pengeluaran-pengeluaran kecil Kita setiap hari, dan perhatikan apakah Kita bisa menghemat pengeluaran tadi.
Menghemat beberapa rupiah sehari untuk tujuan masa depan ketimbang membelanjakan uang untuk urusan kecil seperti Latte, air mineral, makanan cepat saji, rokok, majalah dsb, ternyata bisa menciptakan perbedaan di antara pengumpulan kekayaan dan hidup dari membayar satu pengeluaran ke pengeluaran lain.
Kita bahkan tidak menyadari berapa banyak yang sebenarnya pengeluaran untuk pembelian kecil ini. Jika Kita lebih cermat dan mengubah kebiasaan Kita sedikit saja, Kita bisa mengubah nasib.



Jadi, mulailah hari ini! Identifikasi apa sebenarnya Latte Factor dengan melacak pengeluaran Kita selama sehari kemudian hitung seberapa banyak yang dapat Kita hemat dalam beberapa tahun.

MONEY TIME

7 Tips dari Secangkir Kopi

Namun Rob Berger, penulis Personal Finance, mengkritik konsep sederhana Latter Factor versi Bach sebab masih banyak variabel lain penentu untuk menuju kaya atau mencapai kebebasan finansial.
Misalnya, Bach berasumsi bahwa kita dapat memperoleh return 10% atau 11% jika menginvestasikan pengeluaran kecil-kecil yang tergolong Latte Factor. Ini dinilai tidak realistik.

Namun apapun kritikan tersebut, Latte Factor bukanlah tentang Latte. Ini lebih pada tentang konsep sederhana, tentang semua biaya kecil yang tampaknya kita abaikan. Konsep yang sederhana, sesederhananya tujuh konsep berikut untuk membawa kita pada kebebasan finansial.

1. Compounding. Sejumlah uang ‘receh’ yang diinvestasikan dari waktu ke waktu bisa berubah menjadi gunungan uang tunai. Kita tidak perlu mengasumsikan return 11% untuk Rp5 sehari. Cukup asumsikan return 6% untuk Rp3,50 sehari. Hasilnya, kita bisa mengumpulkan Rp106.000 selama 30 tahun.

2. Waktu. Dalam penjelasan sebelumnya, kita mengasumsikan berinvestasi pada Rp3,50 sehari selama 30 tahun. Bagaimana jika kita meningkatkan waktu itu menjadi 40 tahun? Saldo Kita akan tumbuh menjadi Rp209.000, atau selisih lebih dari Rp100.000. Waktu penting. Pikirkan hal itu ketika Anda mempertimbangkan apakah Anda harus menunggu untuk berinvestasi sampai semua utang Anda lunas.

3. Return (Tingkat Pengembalian). Jika Kita mengubah asumsi return dari 6% menjadi 7%, maka hasil investasi kita bakal meningkat dari Rp106.000 menjadi lebih dari Rp128.000. Artinya, pertimbangkanlah ika penasihat keuangan Kita mencoba meyakinkan bahwa biaya 1% masuk akal.

4. Lebih dari Latte. Fokus hanya pada secangkir kopi bisa menghilangkan substansi secara keseluruhan. Latte Factor berlaku untuk segala hal mulai dari seberapa banyak kita membayar untuk kabel? Apakah kita perlu memiliki lebih dari satu mobil atau cukup satu saja?
Saya yakin banyak keluarga dapat menghemat ratusan ribu rupiah per bulan jika mereka lebih jeli memperhatikan pengeluaran bulanan mereka. Artinya, jika kita bisa menghemat Rp250 per bulan maka nilai tersebut bisa melonjak menjadi Rp250.000 selama 30 tahun dengan tingkat return 6%.

5. Kebiasaan. Sejumlah orang mengabaikan Latte Factor karena alasan ingin "menikmati" hidup. Kita sering mendengar bahwa "hidup ini singkat" karena itu Kita harus "hidup untuk hari ini." Kendati klise, ungkapan ini ada benarnya.
Namun jarang sekali, Kita mendengar orang berkata, "Hidup ini singkat, Saya akan membaca buku yang bagus" atau "Hidup itu singkat, Saya akan menghabiskan waktu bersama keluarga."
Beberapa alasan klise itu, seolah-olah membenarkan mengapa pengeluaran yang tidak perlu itu dilakukan.
Artinya, Kita bisa memboroskan uang untuk hal-hal yang tidak membuat kita bahagia. Bisa jadi memberi Kita kepuasan sesaat tetapi tidak selamanya.

6. Kontrol. Ketika berbicara mengenai aliran uang, banyak yang menilai Kita tidak memiliki kendali. Untuk beberapa alasan, kita percaya bahwa Kita menjadi korban dari sistem atau beberapa kelompok yang tidak jelas. Terkadang hal-hal baik terjadi, terkadang hal-hal buruk terjadi. Namun, Latte Factor menunjukkan bahwa Kita memiliki kendali yang jauh lebih besar atas takdir keuangan Kita dibandingkan mitos yang selama ini ada.

7. Jumlah Kecil Itu Penting. Akhirnya, Latte Factor menunjukkan kepada kita kekuatan dari sejumlah kecil uang. Setiap rupiah yang datang melalui tangan kita mewakili sejumlah kemungkinan. Tentu saja, Kita menghabiskan uang untuk kebutuhan dan keinginan Kita. Tetapi setiap rupiah yang dapat Kita simpan dan ‘bekerja untuk Kita’ akan berlipat ganda jika diberi cukup dimensi waktu. Hal ini memungkinkan Kita untuk membangun kekayaan di hampir setiap pendapatan.

Sumber : (1) Davide Bach, Smart Couples Finish Rich.
(2) Rob Berger, pendiri Doughroller.net,portal keuangan pribadi, Allcard.com.

Video Gallery

contoh iklan layanan masyarakat devianart 1

contoh iklan layanan masyarakat makanan