Interview

CEO PTPN Holding: Sumbernya Manusia

MASSA2

Belum setahun dibenahi, kinerja penyehatan PTPN III Holding, rumah bagi 14 PTPN, sudah terlihat ‘kinclong’.

Baru saja meraih penghargaan sebagai Best CEO dari majalah SWA, Desember 2016, Elia Massa Manik, dirut PTPN III Holding tetap rendah hati. Padahal mantan CEO Elnusa ini, belum genap setahun menakhodai Holding Perkebunan. Filosofi leadershipnya sangat sederhana, manusia harus “jujur, tulus, dan ikhlas.”
Berikut obrolan ringan Kanal.co dengan Dirut yang suka musik rock, tapi punya kebiasan unik yakni jarang memakai kaos kaki.

Bagaimana cara Anda memetakan masalah di  PTPN Holding?
Untuk mengetahui persoalan, saya turun langsung ke lapangan. Hampir setiap hari, Saya mengunjungi satu per satu perkebunan untuk berkomunikasi dengan karyawan yang berada di kebun atau pabrik. Selain itu, saya juga memberi contoh untuk terus belajar. Kalau untuk urusan itu [sidak di lapangan] kita kuat saja. He..Heee.. Mereka mungkin heran..

Dari level pemimpin Anda memulai transformasi?
Inti transformasi di PTPN ada di manusianya. Saya memulai dari pemimpinnya. Jika pemimpinya ‘benar’ yaitu “Jujur, Tulus, Ikhlas” dalam bekerja.. maka ke bawahnya akan menjadi lebih mudah. Karena itu, yang pertama-tama kami rombak adalah level direksi. Dari rata-rata 5 BOD di masing-masing PTPN, kami pangkas menjadi hanya 3 orang. [Pengangkatan BOD baru PTPN I-PTPN XIV dilakukan pada 18 Juli 2016 dan BOC baru pada 5 Sept.2016]

Mengapa perombakan BOD relatif mulus? Tidak ada perlawanan dari SP [Serikat Pekerja]?
Kami mengajak mereka bicara.. dan meminta usulan dari mereka untuk nama-nama calon direksi PTPN. Saya bilang, Kalian [SP] lebih hebat dari saya, karena bisa mengusulkan nama calon direksi. ..Kalau soal tekanan pasti ada..tapi Saya tidak mau bicara soal itu..

Bisa dijelaskan persoalan inti di PTPN Holding?
Ada empat masalah utama di Holding.
Pertama, produktivitas yang rendah. Produktivitas komoditas utama PTPN yaitu Kelapa Sawit, Gula, dan Teh lebih rendah jika dibandingkan dengan pesaing. Penyebabnya, komposisi umur tanaman yang tidak ideal, jumlah tegakan per hektar, kinerja pabrik yang rendah (losses tinggi, downtime tinggi, lack of skills & maintenance), serta infrastruktur tidak memadai.
Kedua, struktur biaya yang tidak efisien. Harga pokok tinggi karena rendahnya jumlah produksi, banyaknya tenaga kerja dan inefisiensi.
Ketiga, Financial problem. Perlu dilakukan debt restructuring dan refinancing, dana segar Rp15 triliun. Penggunaan dana selama ini tidak sesuai peruntukan. Selama 2010-2016, utang meningkat dari Rp10,74 triliun (2010) menjadi Rp33,24 triliun (2016). Sebanyak 8 PTPN dari 14 PTPN mengalami kerugian.
Keempat, aset problem seperti sengketa lahan dan persoalan HGU. Dari total 1,18 juta hektar lahan yang dikelola PTPN, mayoritas masih bermasalah.

MASA MEDIA

Mengapa utang sebesar Rp33,24 triliun tidak mampu dikonversikan menjadi kinerja dan aset-aset produktif?
Kalau cerita masa lalu jangan tanya Saya, 100 jilid [komik] Kho Ping Hoo pun nggak bakal ‘kelar.’ He..Hee..

Apa saja grand strategy dari transformasi selama 2016?
Pertama, peningkatan produktivitas seperti pemeliharaan tanaman, replanting, pemupukan, serta perbaikan, pemeliharaan hingga peningkatan utilitas pabrik.
Kedua, efisiensi biaya. Upaya yang ditempuh a.l. efisien biaya umum dan biaya tidak langsung, investasi yang selektif, serta penerapan ‘profit & loss statement di setiap unit kerja.
Ketiga, financial restructuring seperti penataan ulang kebutuhan investasi, restrukturisasi utang pemasok Rp14,5 triliun dan utang bank Rp14,3 triliun, fund raising, dan identifikasi aset-aset yang tidak produktif.
Keempat, restrukturisasi organisasi dan SDM antara lain perombakan dan perampingn direksi-komisaris, perampingan organisasi di masing-masing PTPN, serta Human Capital talent.
Kelima, pengembangan sistem dan prosudur seperti penerapan ERP, e-lelang, dan kerjasama dengan lembaga lain seperti BPK, BPKP, dan Kejaksaan.
Program penting yang lain adalah spin-off unit bisnis yang homogen dan siap secara manajemen. Selain, memilih PTPN yang layak IPO.

Dari sejumlah indikator, apakah program transformasi selama 2016 sudah berjalan on the track?
Sejumlah indikator menunjukan adanya perbaikan seperti penurunan kerugian operasional menjadi Rp 226 miliar (di luar impairment) pada 2016 dari Rp 613 miliar (2015). Produktivitas karet naik 9%, teh naik 19%, kelapa sawit sedikit turun 7% di saat produksi nasional turun 15-20%, dan produksi gula turun 16% (sementara produksi nasional turun 20%).

PTPN 4

 Apa saja program transformasi selama 2017?
Salah satu program utama di 2017 adalah restrukturisasi utang perbankan (Rp14 triliun) yang mencakup perpanjangan jangka waktu, penurunan bunga, serta rescheduling pokok dan bunga. Sedangkan penyelesaian utang pemasok yang berjumlah Rp14 triliun mencakup a.l. rescheduling utang niaga, penyelesaian utang pajak lewat tax amnesty, dan penyelesaian kewajiban kepada karyawan (dana pensiun/ SHT/ BPJS Tenaga Kerja).
Pada saat yang sama Holding juga membutuhkan injeksi dana segar sebesar Rp 13 triliun selama 2016-2018. Di tahun 2016 sudah diperoleh dana sekitar Rp2 triliun. Dana tersebut bertujuan memperbaiki repayment capacity melalui peningkatan kinerja dan cost effectiveness.

Program utama yang lain adalah peningkatan kinerja empat komoditas utama yaitu sawit, karet, gula, dan teh, hilirisasi, pengembangan riset – pengembangan seperti memperkuat LPP Perkebunan di Jogja, penguatan marketing strategi antara lain di KPBN [lelang perdana teh di KPBN Menteng, 4 januari 2017], serta penerapan teknologi informasi terintegrasi –ERP [Entreprise Resources Planning].

Ada rencana membuat buku dari pengalaman transformasi di PTPN Holding?
Harusnya bisa menjadi sebuah buku. Melihat Holding PTPN ini seperti melihat ‘Indonesia kecil’. Potensinya sangat besar, tapi selama ini mengalami ‘tidur panjang.’ Bayangkan, pada tahun 1970-an mereka sudah memiliki LPP Perkebunan di Jogja. Semacam Corporate University. Malaysia pun dulu berguru ke kita.... Tapi kini mereka jauh lebih maju..

Apa yang ingin Anda selalu wariskan kepada PTPN?
Calon-calon pemimpin atau penerus yang berkualitas yang lebih baik daripada kita. Kita harus memperlakukan karyawan subordinasi seperti anak-anak sendiri. Artinya, kita selalu ingin anak kita lebih maju daripada kita... Artinya, sebagai pemimpin, saya ingin direksi-direksi [di PTPN] sudah memiliki kandidat-kandidat pemimpin di masa depan untuk posisi dua lapis di bawahnya.

PTPN 5

 

 

Video Gallery

contoh iklan layanan masyarakat devianart 1

contoh iklan layanan masyarakat makanan