Kesalahan Logika (Logical Fallacy)

KESALAHAN LOGIKA
KANAL.CO, Jakarta:
Kemampuan untuk mengidentifikasi kesalahan logika pada argumen orang lain dan untuk menghindari mereka “ngotot’ mempertahankan argumennya, adalah keahlian yang bernilai dan semakin langka. Penalaran yang keliru membuat kita mengetahui kebenaran. Ketidakmampuan untuk berpikir kritis membuat kita rentan terhadap manipulasi ahli retorika.


Apa itu Kekeliruan logika?
Kesalahan logika adalah kesalahan penalaran. Ketika seseorang mengadopsi posisi tertentu atau mencoba membujuk orang lain untuk mengadopsi posisi tersebut, berdasarkan sepenggal penalaran yang jelek, maka mereka melakukan kekeliruan.

Ketika orang berbicara tentang kesalahan logika mereka sering merujuk pada sekumpulan kesalahan penalaran yang dikenal, bukan untuk kesalahan dalam arti yang lebih luas.
Sejumlah kesalahan logika disebabkan adanya asumsi bahwa semua bagian adalah sama-sama penting. Dan karena semua bagian tadi adalah penting dan benar maka mereka harus menjadi penting dan benar pula.
Berikut sejumlah contoh 10 kesalahan logika :

1. Argumentum Ad Hominem
Yaitu menyerang pribadi lawan, bukan argumennya. Atau menyerang karakter dan reputasi yang melekat di diri seseorang bukan arugmennya.
Contoh:
A : "Kita harus selalu menjaga kerukunan antarwarga."
B : "Lho keluarga kamu sendiri aja berantakan kok. Jangan sok ngurusin orang lain kalau nggak bisa mengurus keluarga sendiri!"

A: “Kita perlu mendukung gerakan pencegahan Pemanasan Global.”
B: “ Lho, kamu kan cuma buruh pabrik.. apa paham soal pemanasan global?”
Kesalahannya: Menyerang pribadi atau reputasi seseorang bukan argumennya.

2. Strawman Fallacy (Manusia Jerami atau citra palsu)
Memposisikan pihak yang berseberangan sebagai pihak yang secara ekstrem layak diserang (bak manusia jerami) bukan argumennya.
Contoh:
A : "Perusahaan perlu waktu untuk mendukung program emisi nol."
B : "Berarti kalian hanya mementingkan diri sendiri dan layak dihukum berat karena tidak mendukung program pencegahan global warming.”
Kesalahan : Langsung memuduh pihak B secara ekstrem atau menjadikan B sebagai manusia jerami.


3. Bandwagon Fallacy
Mendasarkan kebenaran argumen pada suara mayoritas atau popularitas semata.
Contoh:
A : " Kita sebaiknya cukup punya anak dua saja agar bisa membiayai semua kebutuhan mereka dengan baik di masa depan."
B : " Tapi, kata orang dulu banyak anak, banyak rezeki.”
Kesalahan:Argumen B tidak otomatis mematahkan kebenaran argumen A hanya karena pandangan populer selama ini.

4. Appeal to Emotion or Pity
Menggunakan emosi atau sebagai dasar sebuah argumen.
Contoh:
A : "Polisi menangkap pejabat AB karena melakukan tindak kekerasan kepada pembantunya."
B : "Tidak mungkin, selama ini dia dikenal sangat santun dan agamis.
Kesalahan: Patokan untuk menilai suatu kebenaran adalah fakta dan bukti empiris, bukan argumen yang berbasis emosi semata.

5. Appeal to Force
Menggunakan ancaman atau hal yang buruk bakal terjadi pada lawan bicara jika argumen kita ditolak.
Contoh :
A : “Saya tidak bisa menonton konser musik itu karena ada acara keluarga. “
B : “Kamu akan menyesal seumur hidup jika tidak menonton konser musik itu sebab mereka tidak bakal ke sini lagi.”
Kesalahan : Argumen B seolah –olah menutup peluang A untuk menonton konser musik di lain waktu.

6. Appeal to Authority
Mendasarkan argumen pada pendapat orang yang berpengaruh atau mempunyai otoritas.
Contoh:
A : "Bagaimana kualitas sekolah A? "
B : " Kata Pak Bupati, kualitas sekolah A sangat buruk. Berarti benar kan dugaanku!"
Kesalahan: Hanya karena pernyataan Bupati bukan berarti hal itu otomatis menjadi kebenaran.

7.Appeal to Tradition
Menyakinkan orang lain berdasarkan keyakinan atau kepercayaan yang sudah lama.
Contoh :
A : Mengapa kita harus mengucapkan salam setiap menyeberang pohon Beringin tua itu?

B : Sudahlah.. itu keyakinan di desa ini secara turun temurun.
Kesalahan : Tradisi secara bertahun-tahun tidak berarti suatu kebenaran atau tidak bisa diubah.

8. False Dilemma, False Dichotomy
Sering juga disebut argumen “hitam-putih” atau hanya memberikan dua pilihan kendati sebetulnya masih banyak pilihan.
Contoh:
A : "Perlu perlakuan yang adil kepada siapapun kendati dia sudah menjadi tersangka korupsi”
B : Anda membela Koruptor...berarti anda Koruptor juga.?
Kesalahan: B menyimpulkan sikap A sebagai satu-satunya opsi, padahal masih banyak opsi yang lain.

9. Begging the Question
Mengasumsi sesuatu menjadi benar karena sedang Anda buktikan.
Contoh:
A: “Anda Yakin Anda adalah pekerja berprestasi di kantor ini ?”
B: “Ya! Karena beberapa karyawan mengatakan begitu. Bagaimana membuktikannya? Gampang, Tanya saja mereka semua.”
Kesalahan: Kendati sedang dalam proses pembuktian, B sudah begitu yakin dengan argumennya.

10. Fallacy of Composition
Menggeneralisasikan sesuatu fenomena atau mengasumsikan bahwa jika satu bagian benar, maka secara keseluruhan benar.
Contoh:
A : "Si A suka berkeringat"
B : "Karena dia suka berkeringat, berarti seluruh kelurganya suka berkeringat juga ya."
Kesalahan : Generalisasi tidak selalu benar.


Sumber http://www.logicalfallacies.info/
https://carm.org/logical-fallacies-or-fallacies-argumentation
dan sumber lain

Video Gallery

contoh iklan layanan masyarakat devianart 1

contoh iklan layanan masyarakat makanan